Bank Negara Indonesia
Bank negara pertama Republik Indonesia, dibentuk pada 5 Juli 1946 sebagai penjelmaan Jajasan Poesat Bank Indonesia yang melebur ke dalamnya. Pada tanggal 17 Agustus 1946 BNI diresmikan oleh Wakil Presiden Moh Hatta bertempat di eks Gedung De Javache Bank di Yogyakarta. Dalam undang-undang pembentukannya, BNI dinyatakan sebagai bank sentral RI, meskipun dalam kenyataannya fungsi tersebut tidak berjalan. BNI lebih banyak bergerak ke bidang perkreditan komersial dan bertindak sebagai bank umum.
Bank Indonesia
Bank sentral Republik Indonesia, setelah menasionalisasi De Javasche Bank pada Desember 1951, September 1952 pemerintah mengajukan rancangan undang-undang pokok Bank Indonesia kepada parlemen, dan disetujui oleh parlemen pada 10 April 1953, serta disahkan oleh Presiden pada 29 Mei 1953 sebagai UU No. 11 Tahun 1953 tentang Pokok Bank Indonesia. Undang-undang Pokok Bank Indonesia 1953 berlaku pada tanggal 1 Juli 1953. Sejak saat itu, 1 Juli 1953 dinyatakan bahwa Bank Indonesia dibentuk sebagai bank sentral menggantikan De Javasche Bank.
Bank of England
Adalah bank senral tertua di dunia. Mulanya bank itu didirikan pada 1694 sebagai bank swasta biasa lalu berkembang dan secara formal bertindak sebagai bank sirkulasi. Pada saat itu bank ditunjuk untuk memberi uang muka kepada pemerintah dengan imbalan hak menerbitkan uang kertas bank melalui undang-undang. 79 tahun kemudian, tepatnya pada 1773 setelah melakukan reorganisasi Bank of England menjadi the bankers bank. Dan 81 tahun kemudian, tepatnya 1854 Bank of England telah melaksanakan kegiatan kliring (transaksi pertukaran warkat) antar bank. Hingga 1946, Bank of England masih dimilki oleh swasta dan masih menjalankan kegiatan komersial, layaknya bank umum lainnya, sebelum sepenuhnya berperan sebagai Bank Sentral.
Bank van Leening
Bank pertama di Hinida Belanda. Pada Agustus 1746, dibentuk suatu Dewan Perdagangan untuk menangani berbagai hal, antara lain menyelesaikan kesepakatan dalam perdagangan pihak swasta yang perlu segera ditangani. Dalam dewan ini duduk tujuh orang yang diserahi sebagai penguasa dari Bank van Leening. Pada 20 Agustus, Bank van Leening didirikan di Batavia. Pada 2 Juni 1752, Untuk mengatasi kesulitan Bank van Leening, dalam rapat dewan diputuskan bahwa berdasarkan pasal 1 dari peraturan Bank van Leening ini akan meningkatkan status bank menjadi Bank Wesel, maka direncanakan untuk mendirikan suatu lembaga baru yaitu Bank Courant / 1 September, Bank Courant didirikan / 5 September, dilakukan penggabungan Bank Courant dengan Bank van Leening sehingga menjadi De Bankcourant en Bank van Leening. Pada 1790 terungkap adanya kekurangan uang dalam kas bank sebesar 63.000 Ringgit, sehingga Pemerintah VOC menilai bahwa hal itu tidak dapat dibiarkan. 5 April 1794 Bankcourant en Bank van Leening dinyatakan ditutup. Pihak VOC mengambil alih dan mengumumkan bahwa kertas bank akan ditukar dalam waktu dua bulan.
Batavia
Sekarang menjadi Jakarta. Pada Maret 1619, VOC dibawah pimpinan Gubernur Jenderal Jaan Pieterszoon Coen merebut Jayakarta dari tangan Pangeran Wijayakrama dan mengukuhkan kedudukannya setelah membumi hanguskan kota dengan membangun kota Batavia di atas puing-puing reruntuhan Jayakarta. Nama Batavia digunakan untuk mengenang Uni Propinsi-Propinsi Nederland Merdeka, yaitu Republik Bataaf, yang melawan penjajahan Spanyol.
Bataafsche Republik
Setelah VOC bubar, segala hak dan kewajibannya diambil alih oleh pemerintahan Bataafsche Republik yang pada saat itu berkuasa atas wilayah Hindia Timur. Bataafsche Republik di bentuk pada 1795 menggantikan bentuk Staaten Generaal dibawah pimpinan raja Willem V. Akibat pengaruh Revolusi Perancis, para patriot Belanda yang menginginkan suatu negara kesatuan, mendesak raja Willem V hingga melarikan diri ke Inggris. Sejak saat itu berdirilah Bataafsche Republik. Pada tahun 1807 Republik Bataafsche dihapuskan oleh Kaisar Napoleon Bonaparte dan diganti bentuknya menjadi Kerajaan Holland di bawah pemerintahan raja Louis Napoleon Bonaparte. Akibat perubahan itu, wilayah Hindia Timur (Indonesia) menjadi daerah jajahan kerajaan Holland.
Betawi
Merupakan sebutan lain untuk kota Jakarta dan sekaligus sebutan untuk masyarakat pribumi yang berdiam di Jakarta Asal – usul penyebutan nama Betawi ini ada beberapa versi. Versi pertama menyebutkan bahwa nama Betawi berasal dari pelesetan nama Batavia. Nama Batavia berasal dari nama yang diberikan oleh J.P Coen untuk kota yang harus dibangunnya pada awal kekuasaan VOC di Jakarta. Kota Batavia yang dibangun Coen itu sekarang disebut Kota atau Kota lama Jakarta. Karena asing bagi masyarakat pribumi dengan kata Batavia, maka sering dibaca dengan Betawi. Versi kedua menyebutkan bahwa nama Betawi mempunyai sastra lisan yang berawal dari peristiwa sejarah yang bermula dari penyerangan Sultan Agung (Mataram) ke Kota berbenteng , Batavia. Karena dikepung berhari – hari dan sudah kehabisan amunisi, maka anak buah (serdadu) J.P. Coen terpaksa membuat peluru meriam dari kotoran manusia Kotoran manusia yang ditembakkan kepasukan Mataram itu mendatangkan bau yang tidak sedap, secara spontan pasukan Mataram yang umumnya adalah orang Jawa berteriak menyebut mambu tai….., mambu tai. Kemudian dalam percakapan sehari – hari sering disebut Kota Batavia dengan kota bau tai dan selanjutnya berubah dengan sebutan Betawi.
BantenKejayaan Banten mulai dirajut sejak pusat Kerajaan Banten dipindah dari Banten Girang ke kawasan pesisir pantai utara sekitar tahun 1527. Sultan pertama Banten, Maulana Hasanudin, memerintah tahun 1527-1570. Selama memerintah, Sultan Hasanudin memprioritaskan perluasan wilayah perdagangan dan pembangunan sistem keamanan kota. Setelah Sultan Hasanudin wafat tahun 1570, pembangunan kota Banten dilanjutkan oleh Sultan Maulana Yusuf. Selain perdagangan, sektor pertanian di daerah pantai utara Banten pun mulai dikembangkan.
Pada masa pemerintahan Maulana Yusuf perekonomian di Banten maju pesat. Pelabuhan Banten menjadi bandar besar sekaligus pusat perdagangan internasional, menggantikan Selat Malaka yang jatuh ke tangan Portugis pada awal abad XVI. Pedagang-pedagang dari sejumlah negara di Asia dan Eropa yang enggan berhubungan dengan Portugis memilih melanjutkan perjalanan hingga Bandar Banten.
Bandar Banten semakin ramai disinggahi pedagang Melayu, Benggala, Gujarat, Persia, Turki, Arab, China, Belanda, Inggris, dan Perancis. Kota Banten semakin ramai setelah tumbuh beberapa pasar di sekitar keraton dan pelabuhan.
Pasar pada sisi timur kota (sekarang dekat Pelabuhan Karangantu) biasa digunakan sebagai tempat transaksi pedagang dari berbagai bangsa. Pedagang dari China biasa menjual berbagai macam kain, seperti sutra, beludru, satin, dan benang emas. Mereka juga menjual perkakas rumah tangga, seperti bejana, panci, piring, mangkuk, sendok, dan gelas dari keramik.
Pedagang dari Gujarat menjual berbagai macam produk tekstil. Pedagang asal Persia menjual bebatuan untuk perhiasan. Sementara pedagang asal Eropa datang untuk membeli hasil bumi, terutama lada yang berasal dari Banten dan Lampung. Pusat perdagangan lada berada di sebelah barat laut keraton—yang kini disebut sebagai daerah Pamarican.
Kejayaan Kerajaan Banten mulai terusik setelah pemerintah Hindia Belanda yang diwakili Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels masuk ke Banten melalui Anyer awal Januari 1808. Penolakan rakyat atas datangnya Daendels menimbulkan beberapa pemberontakan rakyat, seperti yang dilakukan sekelompok warga yang menamakan diri bajak laut.
Perlawanan juga datang dari Sultan Abunasar Muhammad Ishak Zainul Muttaqin, Sultan Banten kala itu. Sultan tetap tidak mau menerima Daendels dan menolak perintah mengirimkan tenaga kerja untuk membangun pelabuhan di Ujung Kulon. Sultan juga tak mau diangkat menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda, seperti para sultan dan bupati lain di Jawa. Puncaknya, utusan Daendels yang bernama Philip Pieter Du Puy dibunuh saat mendatangi keraton pada 21 November 1808. Perlakuan itu dibalas penyerangan oleh pasukan Daendels pada hari yang sama. Istana dikuasai dan Sultan dibuang ke Ambon.
Untuk mengisi kekosongan kepemimpinan, Daendels mengangkat Sultan Aliyudin II sebagai Sultan Banten yang harus tunduk pada semua perintahnya. Namun, karena pemberontakan rakyat terus terjadi, Sultan Aliyudin II pun ditangkap dan dipenjara di Batavia. Keraton Surosowan dibakar dan dihancurkan sehingga pusat pemerintahan selanjutnya dipindah ke Keraton Kaibon di sisi selatan Surosowan.
Sejak saat itu kota Banten benar-benar mati. Pusat pemerintahan dan kegiatan warga pun dipindah ke Serang (lahan persawahan di selatan Banten) pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles tahun 1813. Pada tahun itu pula Raffles membangun kantor Residen Banten—yang kini menjadi Pendapa Gubernur Banten.